Review film kambingjantan (yang beneran)

23 Mar 2009

Setelah sukses nge-gerecokin search engine dengan postingan yang nyundul-nyundul keyword review film kambingjantan, akhirnya saya punya uang dan waktu untuk nonton filmnya. Terus gimana filmnya? Okay mari kita mulai!

Masih ingat kasus film mr.bean the movie? Apa penyebab film mr.bean ini dinilai tidak sesukses dan tidak sekocak serial televisinya? Jadi begini ceritanya, dalam serial televisinya kehidupan mr.bean itu ditampilkan dalam kondisi terpotong-potong (chunk/strip). Dengan cerita lepasan begitu menjadikan cerita mr.bean televisi terbangun dari sebab-akibat yang hanya ada di bagian cerita pada saat itu saja. Ia jadi terbebas dari nilai-nilai dan norma-norma sebenarnya yang tergantikan dengan nilai dan norma yang dipatok di kondisi itu semata. Maksudnya gimana?

Contoh, kita tidak perlu khawatir mr.bean diproses pihak berwajib karena memotong pohon natal di tengah taman kota. Atau kita tidak pernah kepikiran apakah mr.bean dikenakan ganti rugi karena sudah membolongi dinding hotelnya untuk sekedar ingin mandi. Saya pribadi tidak pernah terpikir bagaimana nasib orang jantungan yang dibangunkan mr.bean menggunakan strum dari tiang listrik. Semua menjadi lucu dan kocak, karena kita terlepas dari nilai dan norma sebenarnya. Kita dibatasi hanya pada kejadian itu saja.

Sebaliknya di film, kita disuguhkan sebuah cerita panjang dimana sebab dan akibat tindakan mr.bean itu terkait dari awal hingga akhir film. Seorang Mr. bean ternyata bukan sosok yang lepas dari nilai. Ia juga ditangkap polisi, ia juga harus menyelamatkan lukisan yang dirusaknya, dsb. Karena kita tahu tindakannya akan membawa ke sebuah konsekuensi yang lebih besar, jadinya tindakan super gokilnya mr.bean tidak bisa kita tanggapi serileks waktu kita nonton serial televisinya. Perbedaan inilah yang katanya membuat filmnya dinilai tidak bisa segokil serial televisinya.

Lantas apa hubungannya dengan review film kambingjantan? Saya sendiri merupakan pembaca setia blog raditya dika mulai dari kambingjantan dulu. Saya sangat menyukai novel kambingjantan dan bisa tertawa ngakak baca komik kambingjantan. Nah, ketiga media ini (blog, novel, dan komik) punya cara bertutur yang sama. Yaitu, berupa potongan peristiwa (chunk/strip). Seperti kasus mr.bean dalam ketiga media itu radit jadi terkesan sangat super gokil. Saya bisa begitu menikmatinya karena kegilaannya bisa terasa datang mendadak untuk kemudian semua terpotong tepat sebelum konsekuensi yang biasa kita hadapi di kehidupan sehari-hari itu datang.

Bagaimana dengan di film? Nampaknya Rudi Soejarwo sebagai seorang sutradara mencoba mencuri nafas media kambingjantan (blog, novel, dan komik) sebelumnya. Setiap perpindahan setting, filmnya langsung dipotong begitu saja tanpa ada efek fade in-fade out yang biasa menjembatani sebuah film. Loncatan-loncatan scene ini pun dicoba dibangun juga dengan dukungan scoring yang minim. Saya pikir itu dilakukan untuk memberikan efek chunk tadi.

Hasilnya? Tetep nggak bantuhuehehe…cerita itu tetap terasa panjang dan berhubungan sebab akibat satu dan lainnya. Saya jadi nggak bisa rileks menonton kegilaan radit karena sadar bahwa ada konsekuensi dibalik tindakannya. Misalnya, saya langsung tahu bahwa he is in big trouble ketika dia membuat essay finance-nya yang gokil. Dan benar ajah dia langsung terancam gak lulus. Belum lagi, kemunculan ‘kelucuan’ radit ini terasa tidak natural di format film.

Radit selalu ngotot bahwa filmnya beda dengan komiknya yang juga beda dengan novelnya yang juga beda dengan blognya. Tapi gak bisa dipungkiri bahwa film ini membawa judul yang berat (kambingjantan). Sebuah judul yang dulu juga dipakai blog yang dibaca 6000 orang perhari, novel yang best seller dan komik yang juga best seller. Wajar jika kita akhirnya terseret untuk membandingkan. Dan saya selalu mengidientikan kambingjantan = gokil abis. Sayangnya saya gak dapat itu di filmnya.

Saya selalu berfikir bahwa dunianya radit itu gokil dan lucu abis. Saya lupa bahwa dia sebenarnya hidup di dunia yang sama dengan kita. Yang lucu itu bukan dunianya radit tapi yang lucu itu bagaimana radit memandang dunia yang dia sampaikan melalui blog, novel dan komik.

Anyway, ada satu adegan yang saya suka, yaitu ketika di tempat cuci tangan waktu radit ketemu lagi cinta pertama waktu di SD.

Ine: iyah ini restoranpapaku yang bangun

Radit: hmmmbagus-bagus.restorannya bagusini kerannya kalo diputer bisa keluar air gitu kata radit sambil muter-muter keran tempat cuci tangan dengan muka salah tingkah.

Yaiiiyaaalllaahhhh.keran kalo diputer dimana-mana keluar aer. Ini kambing jantan, ini kocak, ini lucu. Dan semua menghilang tepat ketika si kebo (pacarnya radit) masuk ke tempat itu dan memergoki radit yang lagi berduaan dengan ine.

Dan pikiran saya pun langsung melonjak,

Oh iyahdia datang kesitu ama pacarnya yahlah gimana tuh pacarnya ngeliat dia beduaan gitu

Dan cerita pun berubah menjadi drama. Saya pun tersadar bahwa radit juga hidup di dunia yang penuh konsekuensi sama seperti saya. Hidupnya bukan cuma ngurusin keran yang keluar aer tapi jauh lebih dari itu.

PS: saya pun berdiskusi sama istri. Kalo nanti ada produser gila yang memfilmkan blog saya ini, saya ndak mau memerankannya sendiri seperti radit. Saya mau nicholas saputra ajah yang memerankan diri saya. eh, ternyata istri saya memilih diperankan Lunamaya. Niat nicholas pun saya batalkan. kemudian memilih memerankan diri sendiri tapi istri diperankan Lunamaya. Dan istri saya pun ngambek…. :D


TAGS


-

Author

Search

Recent Post