Dblogger itu bukan (otomatis) blogger detik

2 Mar 2011

Okay, sebelum memulai tulisan yang kemungkinan panjang ini, saya cuma mau menegaskan kalau niat saya posting bukan untuk menambah huru-hara yang sedang terjadi. Jujur saya berniat mendinginkan suasana, mudah-mudahan niatan ini sampai kepada pihak yang berkepentingan.

Pertanyaan yang muncul pertama, kenapa sih sering terjadi konflik di Dblogger? Jadi begini ceritanya, awal tercetusnya, dblogger itu dibentuk untuk mewadahi mereka yang ngeblog di blogdetik. Oleh para penggagasnya, setiap yang ngeblog di blogdetik itu dblogger. Begitu deh kira-kiranya.

So, kebayang gak? Suka tidak suka, mau tidak mau mereka yang ngeblog di blogdetik itu adalah dblogger. Kejadiannya apa? Semua merasa berhak dengan dblogger dan semua kegiatan dblogger harus diinformasikan ke semua dan harus mewadahi semuanya.

Ini jadi pencetus seringnya konflik, karena ketika terjadi sedikit saja (atau banyak saja) kegiatan yang dianggap tidak mewakili semua pihak dalam blogdetik maka akan langsung ada yang protes. Dari sini kita bisa menganalogikan dblogger sebagai sebuah negara (seperti Indonesia) dalam wilayah yang bernama blogdetik.com (seperti dari sabang sampai merauke). Jelas kita bisa pindah negara, tapi tidak semudah itu! Tidak ada pilihan lain selain membereskan negara kita tercinta.

Tapi…itu dulu! Entah ada tidaknya kesepakatan di awal dengan blogdetik tentang terbentuknya dblogger dulu, namun saya melihat sekarang ada pergeseran bentuk komunitas dblogger di mata blogdetik (baca:management detik). Di awali dengan adanya keinginan management blogdetik mengadakan kopdar akbar para bloggernya. Kita bisa lihat di wall page blogdetik (official) dengan tegas admin menggunakan istilah detik blogger atau blogger detik dan bukan Dblogger.

Kemudian indikasi kedua ketika ultah dblogger, di sana sama sekali tidak ada banner dari blogdetik atau setidaknya yang mengindikasikan blogdetik. Malah ada selentingan kabar kalau blogdetik tidak diperbolehkan memasang banner di sana (tapi ini bisa jadi hanya isu, saya bukan panita, saya gak ikut membantu acara, jadi gak berkompeten soal ini). Indikasi ketiga ada di halaman depan blogdetik.com, dimana dblogger ditempatkan sama dan sejajar dengan komunitas yang lain macam Dot S dan blogvaganza. Dan Dblogger tidak membawahi ini semua.

Berarti apa? Analogi dblogger sebagai sebuah negara dalam wilayah blogdetik yang saya sajikan di awal tadi sudah tidak lagi tepat! Suka tidak suka mereka (termasuk mungkin saya) yang merasa bernaung di dblogger harus bisa menerima kenyataan bahwa dblogger saat ini hanyalah sebuah partai atau ormas dalam sebuah negara yang bernama blogger detik yang notabena bentukan managemen detik. Berarti pula suka atau tidak suka, mereka (termasuk mungkin saya) yang nanti kurang setuju ini itu dengan kebijakan dblogger harus menerima kenyataan bahwa dblogger yah cuma sebuah organisasi di bawah blogger detik yang lebih besar.

Memang bedanya apa? Jelas buat saya ini membawa konsekuensi logis yang besar. Contoh, ada keluhan dblogger hanya mengakomodasi kepentingan orang-orang tertentu di dalamnya. Ketika dblogger masih beranalogi sebuah negara jelas kita yang juga warga wilayah blogdetik, wajib menegur sampai berulang kali. Tapi ketika dblogger hanya sebuah bentuk organisasi di bawah blogger detik, dan ia hanya misalnya menaungi buah pikir orang-orang tertentu yang di dalam dblogger, ya wajar toh? Terus kalau saya gak suka dengan partai bernama dblogger itu apa yang harus saya lakukan?

Kalau benar-benar tidak suka, pilihannya mudah kawan! Keluar! Bentuk yang baru! Bentuk Dblogger Perjuangan mungkin? Toh dblogger sekarang tak lebih dari sekedar komunitas biasa. Sementara di pihak lain, bagi rekan-rekan yang masih ingin bergabung dengan dblogger harus bersikap gimana dengan keadaan ini? Ya gak masalah, partai saja bisa berbuat lebih koq untuk orang banyak, kenapa dblogger gak bisa? Jangan memaksakan diri untuk tetap jadi negara.

Sekali lagi saya bukan hendak membuat huru hara baru. Saya hanya coba menyajikan sebuah fakta yang bisa menghindarkan kita dari konflik. Selalu ada exit strategy untuk kita yang gak suka dengan dblogger. Sementara di sisi lain untuk dblogger sendiri sudah sepatutnya pula mendefinisikan ulang diri dan hanya bertindak atas nama dblogger (sebuah komunitas dari sekian banyak komunitas blogger detik) serta tidak lagi mengatasnamakan blogdetik secara umum. Mudah-mudahan dengan gambaran ini kita bisa lebih santai menghadapi konflik dblogger di depan.

Terus ada satu lagi nih huru hara yang bikin saya gatel nulis. Soal posting pilihan yang ada di halaman depan blogdetik. Saya dan kawan-kawan yang waktu itu diundang secara resmi sama blogdetik ke anyer untuk memberi masukan tentang layanan blogdetik sudah memberi warning soal ini. Adanya posting pilihan punya potensi akan bisa diprotes sama banyak orang. Ini karena sifatnya sangat subyektif dengan admin.

Makanya waktu itu kita memberi usulan, kenapa tidak yang muncul dihalaman depan itu adalah posting paling banyak dilihat, paling banyak dikomentari, blogger paling banyak memberi komentar. kemudian ada sistem like macam di facebook, ngerumpi.com atau kompasiana, jadi ada postingan yang paling banyak di like juga di depan. Bisa ditambahi dengan filter waktu. Lima posting paling banyak dilihat hari ini, 5 paling banyak dilihat seminggu, sebulan, dst. Juga paling banyak di komen atau di like hari ini, seminggu, sebulan, dst.

Dengan begitu, pertama fungsi admin akan lebih mudah. Kedua subyektivitas admin dapat diminimalisir dan dialihkan pada obyektivitas kolektif milik penghuni blogdetik. Jadi tidak ada yang merasa pilih kasih atau di kesampingkan. Sayangnya sudah nyaris setahun acaranya lewat, masukan ini belum terwujud. Dan malah konsep like ini kini diterapkan pada wordpress.com!Tapi mungkin ada pertimbangan lain yang lebih baik menurut blogdetik yang saya sendiri kurang paham. Makanya saya hanya mendoakan supaya blogdetik menemukan solusi terbaik soal polemik posting pilihan ini.

So, akhir kata (kayak pidato tujuh belas agustusan), mudah-mudahan posting ini bisa bikin adem suansana dan bukan malah bikin panas!


TAGS


-

Author

Search

Recent Post