Flaming

11 Mar 2011

Judul posting kali ini memang sesederhana itu, tapi tidak demikian dengan penjelasannya. Flaming di dunia internet dikenal sebagai sebuah tindakan yang mencoba memancing perdebatan yang sekaligus memicu permusuhan. Orang yang melakukan flaming ini biasa disebut dengan flamers.

Sebuah flaming bisa dikatakan berhasil jika hal tersebut mampu memicu komentar dan saling serang antara kedua kelompok yang berseteru. Keadaan saling serang ini dikenal juga dengan sebutan flame wars.

Beberapa flame wars sudah terkenal dan punya dua kubu yang tak segan saling menyerang jika ada yang menyulut. Contoh tersebut misalnya flame wars AMD vs intel (banyak contohnya di forum teknologi), windows vs linux (ini juga banyak contoh di forum software), pro sby vs kontra sby (bisa dilihat di kaskus dan tersebar di sejumlah blog), Honda vs Yamaha (contoh paling anyar di detiksport.com kanal motogp bagian komentar), monetize blogger vs non monetize blogger.

Berbeda dengan debat konstruktif, sebuah flaming biasanya bukan bertujuan untuk memecahkan persoalan, tapi justru untuk mempertajam permusuhan. Alih-alih membicarakan soal hal yang didebatkan biasanya flame wars justru akan berujung pada saling serang karakter individu, saling gosip, saling menjatuhkan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal yang semula dibicarakan.

Coba lihat deh contoh yang sudah saya kasih di atas soal honda vs yamaha di kanal motogp itu. Silahkan telaah sendiri, berapa banyak komen yang betul-betul membanding sisi teknis motor yamaha dan honda, berapa banyak yang betul-betul membandingkan sisi ketangguhan tim balap honda yamaha, dan berapa banyak komentar yang hanya bertujuan saling serang?

Okay, jadi kita semua paham bahwa tidak semua orang yang terbuka untuk berdiskusi itu adalah orang demokratis. Ada juga mereka yang termasuk flamers dan senang menyulut flame wars. Tujuannya tak lain adalah menikmati kerusuhan.
Kalau demikian lantas apa yang bisa kita lakukan jika berhadapan dengan flamers, flaming atau flame wars?

1. Jangan sekali-sekali pun melibatkan diri dalam flame wars
Betapapun anda orang yang dingin nan santai, jangan pernah sekali-kali pun memasuki arena flame wars. Sesuai namanya flame wars memang merupakan perang api! Pertahanan diri anda paling dingin sekalipun pasti akan meleleh dan menjadikan anda terlibat ikut-ikutan flaming selanjutnya. Ingat, saya bukan menganjurkan anda menghindari sebuah diskusi sehat nan konstruktif. Rasanya dari contoh-contoh di atas sudah jelas bedanya antara flame wars dengan diskusi terbuka.

2. Kalau sudah terlanjur terlibat segera keluar dan lupakan
Kehebatan para flamers adalah kemampuan flaming mereka yang mampu menyulut flame wars tanpa kita sadari. Jadi bisa saja kita tiba-tiba berada di arena flame wars. Dan jika ini terjadi segera keluar, jangan pernah kembali lagi.

3. Bagaimana jika flaming terjadi di blog kita?
Seandainya ada komentar bernada flaming (ingat anda harus bisa membedakan flaming dengan masukan kritis), maka tindakan paling bijak adalah memoderasi komentar tersebut. Kenapa demikian? Karena biasanya seorang pemilik blog punya pengikut setia yang tidak rela jika si blogger di flaming oleh orang lain. Di sini biasanya akan terjadi flame wars dan jika anda terlambat memisahkan pertempuran ini, maka perang itu biasanya akan berlanjut di blog-blog lain (pendukung anda vs penolak anda). Dan jika ini terjadi semua sudah di luar kendali anda, karenanya sebelum terjadi segera hindari.

4. Bagaimana jika kita tanpa sadar sudah ikut flame wars di blog kita sendiri?
Sekali lagi moderasi flaming lanjutan. Tapi jangan pernah menghapus flaming yang sudah terlanjur kita buat di komentar posting kita sendiri. Selanjutnya sadari kesalahan kita sudah ikut flame wars, buat lah permohonan maaf kepada pembaca lain yang sama sekali tidak terlibat dalam perang tersebut.

5. Tidak ada orang tengah di flame wars
Ini salah satu beda flame wars dengan diskusi sehat. Dalam peperangan flaming, tidak ada yang namanya orang bisa di tengah. Prinsip utamanya either you with me or you against me! Jadi jika anda menemukan situasi tidak bisa ada orang tengah macam begini, segera keluar karena berarti sedang terjadi flame wars. Dan paling penting jangan coba-coba menjadi penengah flame wars, karena anda akan ikut terbakar!

6. Kadang kala ada konsekuensi offline dari sebuah tindakan online
Masih ingat donk tindakan flaming dari seorang anak SMU swasta di daerah pondok Indah? Aksi ini akhirnya memicu flame wars antara sekolah swasta vs sekolah negri. Bahkan flame wars ini sampai jadi trending topic di twitter. Aktivitas di dunia online ini kemudian menjadi ancaman di dunia nyata. Sekolah si anak itu terancam di serang oleh sejumlah sekolah lainnya. Anak-anak sekolah pondok indah lainnya yang tidak ikut flame wars itu toh terseret juga akibat tindakan ini. Ujungnya si anak mendapat skorsing dari sekolahnya, dan konon dikucilkan dari kawannya yang lain.

7. Pengalaman pribadi saya
Saya sudah kenal internet dari tahun 99 yang lalu. Jauh di masa lalu harus diakui saya termasuk salah seorang flamers. Ada kenikmatan tersendiri jika flaming saya menjadi sebuah flame wars yang ramai dibicarakan. Jadi kerjaan saya menyulut sana dan menyulut sini.

Adalah sebuah blog yang saya anggap begitu berseberangan dengan salah satu prinsip saya kala itu (sekitar tahun 2007). Blog ini akhirnya jadi sasaran flaming saya. Di sana pun kerap kali terjadi flame wars yang dibiarkan oleh pemilik blognya. Bisa berkali-kali saya bolak-balik komentar dan membuat posting tandingan di blog saya sendiri.

Hingga pada akhirnya entah dengan alasan apa blog ini ditutup oleh pemiliknya. Dari sini lah kesadaran saya muncul. Ditutupnya blog itu secara tiba-tiba bikin saya kebingungan sendiri. Karena api yang sudah terlanjur berkobar seolah padam begitu saja tanpa alasan. Pelan-pelan pun saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan itu bukanlah sebuah diskusi sehat. Saya tak lebih dari aksi senang menyerang dan menikmati bertahan ketika diserang.

Loncat beberapa tahun kemudian saya berkenalan dan bersahabat baik dengan salah satu blogger di blogdetik. Sekian lama kami bertemu dan kopdar, saling canda dan ngobrol. Belakangan baru saya temukan bahwa beliau ini dulu termasuk pendukung blog yang saya maksud itu, sementara dulu saya ada di pihak kontranya. Sangat lucu kemudian membahas bagaimana dulu kami meributkan hal-hal yang sangat tidak esensial. Kenyataannya di luar flame wars itu ternyata saya dan dia berteman sangat akrab. Dan ketika blog kontroversial itu ditutup, seketika itu pula masalahnya hilang.

Hal yang kemudian paling saya sesalkan adalah banyak sejumlah blog yang dulu jadi sasaran flaming saya, saat ini sudah ditutup oleh pemiliknya atau ditinggalkan begitu saja. Banyak hal yang tidak sepantasnya saya lontarkan kala itu.

Bagaimana jika si blogger tidak terima, bagaimana jika pendukungnya tidak terima, bagaimana kalau kemudian saya yang ternyata salah? Sayangnya saya sudah tidak bisa meminta maaf karena blognya ditutup dan kontak satu-satunya hanya lewat blog. Dan di agama saya diajarkan, kesalahan pada Allah bisa dihapus hanya dengan tobat, tapi kesalahan antar manusia harus lebih dulu diselesaikan dengan mereka yang terlibat. Lantas kemana saya harus meminta maaf dengan semua blog yang sudah tutup itu?


TAGS


-

Author

Search

Recent Post