Detikku sayang Detikku belum bayar

15 Feb 2012

Update: Saat ini saya sudah bertemu pihak managemen detik, dan permasalahan sudah terselesaikan dengan baik :)

Halo saya balik lagi, setelah kemarin say hi perpisahan! Baliknya saya kali ini khusus buat curhat. Sebenernya saya juga gak enak banget mau nulis tentang uneg-uneg kepada detik ini di blogini. Soalnya saya sudah menganggap detik lebih dari sekedar portal.

Meski notabene saya hanya orang di luar detik, tapi kesempatan beberapa kali diundang ke moderator community meeting hingga diundang secara pribadi oleh bapak Budiono (pendiri detik) ke rumahnya, cukup membuat saya merasa detik mirip keluarga sendiri. Tapi ya jujur ada perasaan gemes yang bikin saya akhirnya nulis cerita di bawah ini (yang sebelumnya udah saya sampaikan juga melalui surat pembaca detik tapi gak pernah tayang)

Jadi ceritanya tanggal 6 Desember 2011 yang lalu saya dihubungi oleh pihak detik.com melalui perwakilannya saudara Yudhi Kurniawan. Ketika itu saya ditawarkan untuk meliput dan menulis artikel advetorial seminar The Rise of The Indonesian Middle Class yang diadakan oleh BCA pada keesokan harinya.

Saya pun menyetujuinya dengan sejumlah fee yang dijanjikan akan diberikan begitu tugas selesai terlaksana. Di tanggal 7 Desember 2011 saya pun hadir ke Ballroom Grand Indonesia sejak pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore. Segera setelahnya saya pun merampungkan tulisan dan mengirimkannya beserta foto ke pada pihak detik melalui saudara Yudhi Kurniawan.

Kemudian di tanggal 18 saya dihubungi lagi oleh saudara Yudhi yang kembali menawarkan tugas peliputan. Kali ini meliput penandatanganan pemberian kredit BCA kepada Elnusa. Saya pun menyanggupinya dan kembali melakukan peliputan di tanggal 19 Desember 2011 yang bertempat di Hotel dharmawangsa. Seperti tulisan yang sebelumnya saya pun mengirimkan tulisan dan foto yang sudah saya rampungkan beberapa waktu sesudah liputan tersebut.

Masalah pertama muncul ketika saya mencoba menanyakan tentang fee yang dijanjikan kepada saudara Yudhi beberapa waktu kemudian, mengingat saya sudah liat tulisan saya tayang disitus ini. Saat itu dijawab bahwa fee sedang dalam proses. Namun setelah beberapa lama saya tunggu fee dimaksud belum juga muncul. Dan masalah kedua muncul ketika saudara Yudhi mengaku bahwa beliau sudah keluar dari managemen detik.

Meski begitu beliau meyakinkan bahwa semua data sudah diproses oleh penggantinya yang baru. Saya pun optimis mengingat nama besar detik.com, pastinya memiliki sistem managemen data yang baik dan tidak bergantung pada perorangan saja.

Sayangnya setelah nyaris dua bulan berselang saya tidak menemui kabar baik. Jangankan untuk menerima fee yang dijanjikan sekedar mengetahui perkembangan pun, saya yang notabene orang luar harus menanyakan bolak balik tanpa jawaban pasti. Beginikah standar managemen yang ada di detik.com?

Terus terang saya juga gak enak nulis ini, karena beberapa sahabat saya yang ada di dalam juga sudah mencoba membantu (walaupun saya tau itu bukan tugas mereka). Tapi di luar itu saya yakin sahabat-sahabat itu juga tau, tulisan ini bukan ditujukan untuk mereka yang sudah membantu atau sekedar menanyakan ke saya. Tulisan ini lebih ditujukan kepada pihak detik yang lebih berkepentingan.

Mudah-mudahan dengan ditulis di blog, perhatiaannya akan lebih besar. Mengingat terakhir saya kopdar dengan kawan-kawan blogger detik di daerah lain, mereka juga mengaku mengerjakan tugas-tugas serupa dan juga belum menerima upah yang dijanjikan. Mari kita berharap masalah terselesaikan, semoga!

PS: kira-kira tulisan macam begini bisa naik jadi headline di blogdetik gak ya? :D

logo detik


TAGS


-

Author

Search

Recent Post