Akhirnya saya nonton Ayat-ayat Cinta!

Yah, setelah pergulatan sekian lama akhirnya saya nonton juga ayat-ayat cinta. Sebelumnya saya memang sempat ragu, apalagi ketika tahu production house yang mengangkat cerita itu adalah produsen sinetron-sinetron yang selama ini saya kurang suka jalan ceritanya.
Sementara itu ayat-ayat cinta merupakan buku yang punya arti sepesial buat saya. Ceritanya waktu awal menikah dulu saya tidak punya cukup uang untuk mengajak istri saya berbulan madu. Jadilah saya dan istri menghabiskan hari-hari pertama pernikahan kami di rumah. Istri saya sibuk membereskan buku-buku koleksi saya yang jumlahnya lumayan banyak, mulai dari Agatha Cristhie, Dunia Shopie, sampai Harry Potter. Di tengah kesibukan itu, istri saya tiba-tiba melihat sebuah buku,
“Eh, katanya buku ini bagus ya?” tanya istri saya sambil membolak-balik buku ayat-ayat cinta.
“Aku juga belum tahu sih, buku itu hadiah, aku sendiri belum sempat baca” jawab saya waktu itu.
“Kamu bacain buat aku mau gak?” Tanya istri saya rada manja.
Ya sudah, akhirnya malam-malam berikutnya saya menghabiskan waktu bersama istri dengan membacakan buku ayat-ayat cinta, layaknya seorang ibu yang mendongeng kepada anaknya. Ternyata buku itu mampu memberikan pengalaman bulan madu yang tidak bisa kami peroleh secara materi. Di tegah keheningan malam kamar, kami berdua seolah berada langsung di Mesir yang merupakan latar belakang cerita itu. Panasnya yang sampai ke ubun-ubun seolah bisa kami rasakan. Keindahan apartemen yang menghadap sungai nil itu pun seolah menjadi keindahan kamar kami. Dan terutama kami seolah berkenalan dengan kawan-kawan baru dari tokoh-tokoh cerita tersebut. Wajar kan, kalau saya kemudian punya ekspektasi lebih terhadap isi cerita itu dan selalu takut filmnya tidak akan bisa menyamai pengandaian saya akan bukunya.
Meski begitu akhirnya, sabtu kemarin saya pun memutuskan untuk menonton film tersebut (setelah agak dipaksa istri). Dari awal cerita saya merasa ada yang kurang sreg. Dan hampir sepanjang dan sesudah film saya sibuk protes pada istri. Terus terang saya yang pengatuhan agamanya minus ini (for the record saya mualaf) dibuat terkesima oleh buku ayat-ayat cinta karena gambaran ketulusan sekaligus keteguhan hati tokoh utamanya. Keislaman yang digambarkan dalam buku tersebut seperti saya belum pernah kenal sebelumnya. Dan menurut saya keindahan keimanan tokoh utamanya itulah yang membuatnya ‘digila-gilai’ oleh para wanita di cerita tersebut
Dan ini yang menurut saya yang tidak tergambarkan jelas di film tersebut. Hal-hal kecil namun justru sangat penting seolah hilang dari film itu. Misalnya,
-cerita sewaktu fahri sakit, kemudian dijenguk dan akhirnya maria menemukan bahwa atap kamarnya bocor.
-Kemudian pergulatan batin fahri waktu mau menolong Noura
-Peristiwa dansa dengan maria
-lalu alasan yang mendasari Aisah meminta Fahri menikahi Maria adalah karena menurut dokter Maria yang sedang koma HARUS DISENTUH Fahri dan Cowok itu menolak dengan SANGAT karena itu bertolak belakang dengan keyakinannya.
Bayangkan bahkan untuk urusan hidup mati orang, keluarga dan diri sendiri pun tidak bisa sembarangan, karena kita tidak hanya hidup di dunia ini. Itu prinsip dasar yang menurut saya agak kurang digali dalam film ini. Dan protes saya pun berlanjut, sampai,
“Bener ayah, tapi buku itu memang bukan buku sembarangan, gak gampang untuk mengangkatnya dalam sebuah film. Dan selain ajaran yang ayah bilang, cerita itu juga megajarkan kita untuk sabar dan ikhlas. Mungkin termasuk menerima dengan sabar dan ikhlas bahwa bukunya dan filmnya punya karakter yang beda” kata istri saya santai.
Huehehe…pegetahuan agama istri saya (yang berjilbab itu) memang jauh di atas saya. Ternyata hal paling dasar soal sabar dan ihklas yang diajarkan di buku itu justru gak nyampe ke saya. Toh setelah pengertian yang diajarkan istri itu, akhirnya saya bisa menikmati film itu.
Paling tidak film itu sudah jadi fenomena tersendiri. Jujur itu adalah film dengan jumlah penonton berjilbab yang paling banyak yang pernah saya temui. Dan twist berbeda dari bukunya yang ditaruh di endingnya juga memberi nuansa yang memang tidak kalah dari bukunya.
Kesimpulannya? Saya punya film favorit baru, Ayat-ayat Cinta!









Leave a Comment