Entah kenapa saya sedih!
Tadi pagi setengah mengantuk saya nonton sebuah liputan di televisi. Isinya adalah tentang sekelompok orang Korea yang menarik perhatian di daerah Gelora Bung Karno.
Jadi ada delapan orang korea yang sudah setahun belakangan ini sering berolah raga di area Gelora Bung Karno. Tapi bukan ini yang membuat mereka jadi pusat perhatian dan diliput televisi. Tapi aksi mereka sesudah berolahraga itu yang menjadi menarik. Masih dengan pakaian olah raganya mereka ini menenteng kantong plastik dan pencapit untuk mengangkut sampah di sekitar area GBK.
Untuk apa? Apa mereka dibayar? Tidak mereka melakukannya dengan sukarela dan gratis. Terus kenapa mereka mau melakukannya? Apa untuk kenyamanan mereka? Nah jawaban ini yang entah kenapa bikin saya sedih:
“Kami melakukannya bukan semata untuk kenyamanan kami, tapi sebagai bentuk rasa terima kasih terhadap Indonesia dan khususnya Gelora Bung Karno yang sudah menyediakan fasilitas olah raga gratis buat kami! Paling tidak ini yang bisa kami lakukan”
Apa yang membuat jawaban itu begitu menarik? Karena wawancara itu dilakukannya dalam bahasa Korea. Tidak tahu yah, tiba-tiba saja hati saya miris melihat bangsa lain yang bahkan tidak berbahasa Indonesia ini bisa begitu berterima kasihnya dengan Indonesia. Sementra disisi lain waktu mereka diliput keliatan orang-orang ‘kita’ yang membuang bekas tissue, pamflet dan sampah lainnya dengan cueknya.
“Dulu ketika awal kami melakukannya, kami dipandang aneh, tapi sekarang setelah setahun orang mulai mengerti, ada yang mengucapkan terima kasih dan ada yang justru mengucapkan maaf ketika kami mengambil sampah yang ternyata miliknya. Tapi kami sendiri cuma ingin berterima kasih” kata anggota kelompok itu lagi.
Entah lah saya sedih terharu atau apa. Yang pasti saya Cuma mikir kalau saja semangat berterima kasih orang Korea terhadap ibu pertiwi ini ditularkan sama seluruh bangsa kita, rasanya negara ini bakal beres.
Jangankan untuk melakukan korupsi yang jelas-jelas akan melukai perekonomian negeri ini. Sekedar membuang tisu di pinggir jalan atau di atas bis kota pun rasanya kita tak akan tega. Memang kadang kita perlu ‘digedor’ dari luar!
Selamat ulang tahun negeriku!









August 19, 2009 @ 2:56 pm
karena kita patriarki, perlu contoh dari atas. kalau peminpinnya buruk, yang bawah pasti cuek…
hebat sekali orang korea itu ya
August 19, 2009 @ 3:03 pm
#kw: saya salut berat sih sama mereka mas…
August 19, 2009 @ 3:05 pm
sedih banget ya! Miris membacanya! Ya, kesadaran yang kita miliki memang masih berkurang.
memang harus kita mulai dari diri kita!
Postingan yang menginspirasi!
August 19, 2009 @ 3:06 pm
hiks….. ikutan sedih, masa kita orang Indonesia mau mengotori bangsa sendiri, sedangan bangsa lain yang tidak bisa berbahasa Indonesia membersihkan bangsa kita yang bukan bangsanya, prihatin :)….. ya semoga pemimpin ikutan baca dan buka matanya
August 19, 2009 @ 3:06 pm
waduh.. malu amat ya kita..
August 19, 2009 @ 3:06 pm
Wa.. mas.. salut banget dah.. terus terang saya malu dengan orang korea itu
August 19, 2009 @ 3:13 pm
haha…kebetulan aku juga nonton berita itu, melihat bagaimana orang korea memungut sampah dan bagaimana orang indonesia hanya memandang cuek dan terus berjalan
yah begitulah indonesiaku
(tapi aku kok gak merasa sedih ya? apa karena masih ngantuk? wkwkwkwkwk)
August 19, 2009 @ 3:27 pm
Seharusnya kita malu menjadi warga negara Indonesia yang tidak peduli, orang bule saja care kenapa kita nggak?
Apakah ada yang salah dalam diri kita?
Ataukah empati sudah mati?
http://belajarngeblog.blogdetik.com/index.php/2009/08/19/ketika-empati-telah-mati/
August 19, 2009 @ 3:27 pm
no comment mas….
August 19, 2009 @ 3:29 pm
wedehhh malu banget … , kita orang indonesia dengan tanpa malu membuang sampah seenaknya dan berpikir nanti juga ada orang yg bersihin, itu kan dah tugas mereka. Tapi orang yg jelas-jelas bukan warga negara indonesia bisa sebegitu menghargai apa yg mereka dapatkan dengan mengumpulkan sampah yg dibuang kita . hiks ….
malu rasanya dan loe bener za … sedih … gw sedih bacanya dan gw bayangin ketika diwawancara mereka merasa bahwa apa yg mereka lakukan adalah sesuatu yg sederhana, padahal dampaknya luarbiasa.
August 19, 2009 @ 3:40 pm
Mungkin kita terlalu banyak diajarin bilang terima kasih…terus bingung kalau sudah terimakasih lanjutnya apa yaa..?
August 19, 2009 @ 3:52 pm
hooh
gw jga nntn tuh tayangan brur
yg laen (org indo) malah cuek bebek jogging
huhhhhhhhhhh
payah banget dah
August 19, 2009 @ 3:56 pm
saya menjadi ada yang kurang (atau boleh juga dibilang “sedih”), kenapa saya hanya membacar tulisan anda dan tidak melihat berita itu tadi pagi di televisi……
hati saya semakin miris melihat saya dan sebagian besar kita yang cuek terhadap lingkungan sekitar…..
kenapa kita tidak memulai dari yang sederhana seperti mereka….?
August 19, 2009 @ 4:42 pm
Saya juga ikut malu kepada orang Korea yg ternyata lebih mengerti bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.
salam sukses
http://suksesterusdong.blogspot.com/
August 19, 2009 @ 4:46 pm
cuma mau bilang : ” Malu jadi WNI..”
“mari peduli thdp kebersihan lingkungan,mulai dari diri sendiri,detik ini juga..”
_thk untuk postingan yg begitu inspiratif_
August 19, 2009 @ 4:49 pm
Negeri kita ini terlalu banyak teori & peraturan tetapi implementasinya ga ada. Sangat menyedihkan….
August 19, 2009 @ 5:31 pm
Kejadian yang sama pernah saya temui di Area Candi Gedong Songo jateng…juga orang korea. Semoga ini menjadi “pengingat” untuk kita semua..
August 19, 2009 @ 5:31 pm
Turut berduka untuk kesedihannya
Entah bagaimana kita harus mendidik masyarakat untuk melakukan hal yg benar, seperti contoh aksi bersih sampah itu.
Dari contoh kasus ini. Seharusnya kita belajar bahwa teladan memang datang dari orang2 yg tak biasa dan konsisten.
Salam.
August 19, 2009 @ 5:53 pm
Gue jadi malu bacanya. Ayo teman-teman hargai negri ini. Jelek-jelek ini rumah kita hehehehe
August 19, 2009 @ 6:13 pm
Kalau begitu, ayo kita mulai dari diri sendiri dan dari lingkungan di sekitar kita.
August 19, 2009 @ 6:59 pm
hm…
August 19, 2009 @ 7:32 pm
sebenarnya bukan masalah anda saja, kal\mi pun sedih, yang jelas - jelas warga negeri ini, tapi tidak sedikit pun kita mengerti apa yang dimaksud rasa terimakasih secara aksi,… memang kita harus di gedor dari luar.
August 19, 2009 @ 7:33 pm
postingan pencerahan
tidak mudah untuk melakukan hal itu . Spt orang korea yang melakukannya dengan tulus , tampa inginkan imbalan apapun walaupun hanya pujian .
August 19, 2009 @ 8:16 pm
kita bangga bawa tas shopping drpad tas buat ngambil sampah hehehe
August 19, 2009 @ 10:06 pm
kesedihan…………………saya sering mengalami kesedihan….
tentang hal itu……….
August 19, 2009 @ 10:57 pm
sedih juga ya….. ternyata kita memang harus disadarkan dengan orang yang datang dari luar Indonesia
August 19, 2009 @ 11:15 pm
malu rasanya jika tuan rumah sampai harus diberikan contoh oleh ‘tamu’ bagaimana harusnya bersikap dan bertindak ..
tapi hanya malu saja tidak cukup, keinginan berubah atau tidak itu yang penting ..
kata2 dimulai dari diri sendiri sangat sederhana nampaknya, tapi itu kunci / awal perubahan …
Expert Advisor
August 20, 2009 @ 6:03 am
sedih dan malu ya…..
koq bangsa lain bisa spontan berkhidmat kepada alam, memelihara tetumbuhan, menyayangi hewan dan membersihkan lingkungan
kayaknya kita harus belajar berterimakasih kepada siapapun dan kepada apapun
August 20, 2009 @ 7:09 am
idem
August 20, 2009 @ 7:18 am
Saya pernah jalan-jalan dengan boss Bule saya….dia geleng2 kepala melihat orang Indonesia membuang sampah sembaranga…dia bilang “Kalo di Australia kamu kedapatan buang sampah sekecil apapun bukan pada tempatnya, kamu akan kena denda….” Kedisiplinan masyarakat di negara maju memang perlu diacungkan jempol….
August 20, 2009 @ 7:45 am
Aduuhh..sumpah Reza… saya bukan sekedar sedih saya malah juga malu sama diri sendiri….
August 20, 2009 @ 8:21 am
andai bapak ibu saya berdarah korea….
August 20, 2009 @ 9:04 am
ekarang pertanyaan-nya adalah.. “Apa yang akan kita lakukan setelah membaca blog ini???” jawaban : ada dalam diri kalian masing-masing.
Salam Semangat! MERDEKA!!!
August 20, 2009 @ 10:47 am
Karena kita tidak terbiasa mengurus diri sendiri…contoh di rumah selalu ada pembantu yang bekerja all round termasuk menjaga kebersihan rumah kita sendiri…sehingga kerja spt yg dilakukan org Korea itu berkonotasi rendah seperti kerja pembantu dan orang kecil spt petugas kebersihan… ya kan? http://www..witarifol.blogspot.com
August 20, 2009 @ 11:01 am
semoga kita semakin tersadar akan kekurangan bangsa ini. sungguh, tuhan telah mengingatkan kita lewat tangan orang lain.
thx for postingannya bro
August 21, 2009 @ 1:49 am
saya malu
August 21, 2009 @ 9:41 am
Untuk perkara sampah, kita memang jagonya. Bukan hanya sampah yang kecil, tapi jika negara kita akan menjadi tuan rumah untuk proyek carbon trade. Artinya negara maju membuang emisi karbon, Indonesia dibayar melalui hutannya untuk menangkap karbon. Itu saja, orang-orang yang pinter dari LSM sampai pemerintah rebutan. Padahal itu kan sama saja menjadikan negara kita WC umum? tempat membuang sampah.
August 23, 2009 @ 1:04 am
Rasanya kok lucu yaaa kalo kita niru orang korea itu…
bener-bener menyedihkan..
August 29, 2009 @ 10:01 am
[...] Kalau pernah baca blog kere(n) punya sahabatku yang malas, pasti pernah baca judul itu. Tapi ini bukan tentang keprihatinan akan kondisi warga Indonesia yang [...]
September 16, 2009 @ 5:24 pm
itu patut ditiru, yang pertama ya.. yang telah baca artikel ini dong, atau setidak-tidaknya jangan buang sampah sembarangan
orang korea itu mencoba menyadarkan, kalo dengan kata-kata tidak akan mempan haha..
October 17, 2009 @ 7:40 am
[...] yang tak cukup perasa dengan hadirnya “tangan-tangan yang peduli” seperti isi postingan sang suami. Jakarta memang hanya baru pantas disebut “perkampungan besar” bukan sebagai kota [...]