Karena ini masalah harga diri bangsa!

Rasanya ini sudah berita kesekian soal Malaysia mengklaim segala hal milik Indonesia. Mulai dari blok macam ambalat, pulau sipadan hingga produk budaya macam batik, wayang, angklung, dan yang terakhir ini masalah tari pendet. Rasanya ingin sekali lempar sandal jepit ke negeri Jiran itu atau minimal nge-jitak kepala Dubesnya disini, tapi yah rasanya memang gak mungkin.

Lagi pula setelah saya pikir, kok rasanya kita memang akan selalu bertetanggan dengan negara gratil tukang ngaku produk negeri lain itu. Anugrah geografis Tuhan yang satu ini tidak bisa kita ubah. Kecuali kalau ada niatan menginvasi baru lain lagi ceritanya.

Nah, berhubung kenyataan bertetangga dengan negara satu itu tak mungkin di ubah, dan juga mengubah perilaku negara lain itu sulitnya minta ampun, jadi kenapa kita tidak melakukan sesuatu sendiri?

Karena ini masalah harga diri bangsa, maka saya pikir ada sejumlah hal yang bisa kita lakukan.

1. bertindak proaktif (bukan reaktif baru bertindak sesudah ada klaim) dengan mendaftarkan semua porduk-produk kita dalam sebuah payung hukum yang diakui secara internasional. Lupakan soal unsur akar budaya, asal muasal, siapa penciptanya, sejarah dan lain sebagainya itu. Di jaman kayak gini, siapa cepat mendaftar paten maka dia adalah pemilik sah. Ini PR besar kita dan pemerintah untuk melakukannya!

2. Sudahkah kita memperbaiki diri ke dalam. Sudah selayaknya jika kita menunjuk orang lain, maka kita harus memastikan diri tidak melakukan hal yang sama. Masih beli film bajakan Hollywood yang jelas-jelas merupakan produk budaya itu? Atau masih nyimpen MP3 bajakan produk bangsa luar? Seberapa besar keperdulian pemerintah untuk mencegah pembajakan produk kreatif bangsa lain ini beredar di negara kita?

3. Coba check isi komputer masing-masing. Berapa persen software bajakannya? Dan berapa persen yang aslinya? Tapi itu khan untuk melawan kapitalisme asing yang menguasai teknologi! Apapun alasannya membajak adalah membajak! Sayangnya saya sendiri masih melakukannya!

4. Masih suka dengerin musisi yang lagunya njiplak itu dan diaku sebagai produknya sendiri? Gimana reaksi pemerintah atas hal ini? Kita masih punya PR besar untuk membuktikan bahwa karya-karya tersebut asli dan bukan jiplakan karya bangsa lain. Mulai dari lagu kopi dangdut jaman dulu sampai kasus d’masive tak pernah ada penjelasan yang pasti soal ini. Kalau memang asli, ayo kita buktikan dan jangan hanya berlindung dibalik peraturan 8 bar semata!

5. Televisi masih menyiarkan FTV dan sinetron bajakan film Hollywood dan sinteron hongkong? Atau kita masih saja menonton film televisi yang bahkan menjiplak habis romatic comedy Hollywood sampai ke dialognya tapi diklaim sebagai murni buatan production house lokal itu? Jujur, saya sih masih nonton tuh!

6. Gimana dengan pasar-pasar KW1 macam mangga dua dan ambasador di Jakarta? Masih suka beli barang tiruan disana?

7. Kita tidak akan pernah bisa menghapuskan titik kelam kasus mobil Timor dan Bimantara. Meskipun dilakukan dengan ijin resmi, tapi koq rasanya malu yah kalau mengingat kita pernah mengklaim mobil buatan KIA dan Hyundai asal Korea itu sebagai produk mobil nasional. Padahal kita cuma modal mengganti emblemnya doank!

8. Kalau semua sudah dipaten dan didaftar mau dimanfaatkan tidak? Kapan terakhir kita nonton wayang? Berapa koleksi batik kita di rumah? Di SD masih diajarkan lagu rasa sayange? Berapa sering televisi menampilkan performa memukau dari sanggar saung angklung mang ujo di Bandung itu? Apa pemerintah mau berinvestasi memajukan produk budaya kita sebagai icon pariwisatanya? Saya sendiri kelupaan dengan yang satu ini!

Saya sih selalu teringat dialog Rangga di film ada apa dengan cinta favorit istri saya itu:

“barusan saya lempar pulpen ke orang gara-gara dia berisik di ruangan ini. saya ga mau itu pulpen dilempar balik ke muka saya gara-gara saya berisik sama kamu”

Maksudnya apa? Yah jangan sampai tuntutan dan cercaan soal tukang bajak dan klaim produk bangsa lain itu justru berbalik ke kita! Ayo berbenah diri nyok! Karena ini masalah harga diri bangsa!

PS: Barusan lihat berita di TV, pengelola sanggar angklung Saung mang ujo itu beberapa kali ditawari uang yang jumlahnya bikin ngiler supaya mereka mau pindah ke malaysia untuk bikin sanggar yang sama dengan dukungan biaya yang tidak sedikit. Bagaimana dengan pemerintah kita? Bagaimana dengan kita? Jangan-jangan pada baru tahu kalau ada yang namanya Saung mang udjo itu!


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • del.icio.us
  • E-mail this story to a friend!
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Print this article!
  • TwitThis

Comments (57)

 

  1. Taktiku says:

    wah sudah lama sekali saya tidak berkunjung kesini. semangat!. :D

  2. anny says:

    Bener banget mas Abrus, kita pun harus koreksi dan introspeksi diri sebelum menyatakan protes thd orang lain.

  3. arista says:

    setuju mas, semuanya bisa jadi kesalahan dari diri kita,
    gagalnya sebuah “diplomasi” anatar bangsa yang membuat seperti ini

    http://pasoepati.blogdetik.com/2009/08/07/kita-yang-selalu-melupakan-sejarah/

  4. uni says:

    setuju, yuk kita mulai mempernaiki diri sendiri ^_^

  5. kamalsuraba says:

    Setuju sekali….perbaiki diri dulu…..

    Salam,

  6. Rizal says:

    Hmm… benar sekali Mas, kitalah yang harus nya koreksi diri kita sendiri…
    Ketika ‘milik kita’ di curi atau hendak dicuri orang lain, kita sibuk menuding bahwa mereka tidak tau malu, nggak berbudaya, pencuri kotor, dsb…
    Tetapi ketika kita yang melakukan pencurian itu, kita malah membenarkannya dan dengan bangga nya mengakui bahwa itu adalah hasil karya cipta kita…

  7. meminjam istilah cak nun, kita pangku saja. klo istilah mbah surip, tak gendong saja tuh malaysia…

  8. salam kurniawan says:

    Itu sih membuktikan Malay ngak punya kebudayaan yang bisa untuk dijual. Apa siih daya tarik melancong ke Malay? Ngak ada kecuali mau foto2 ria di Twin Tower terus masukin fotonya di FB. jadi maklumin aja kalau Malay nggak berbudaya krn mmg ngak ada kebudayaan mereka yg bisa ‘dijual’. Lihat aja, sebentar lagi juga Malay akan meng-klaim “Proklamasi 17/8/45″ dan “Sumpah Pemuda” itu milik mereka, baru deeh kita boleh ribut’in kalau Malay klaim itu juga…. Lgpula yg kasih julukan “Litle Soekarno” untuk Dr. M khan orang kita juga

  9. Iin says:

    Negara malaysia kan sebentar lagi bangsa qt juga (walau sebagian besar masih kelas TKI) wajar dong budaya qt dibajak merasa masih miliknya.
    kali yang mbajak kelahiran prembun.he..he..pada sewot kayak yang pinter ngurus negara aja

  10. rhadyan says:

    biarin walau banyak bajakan kita pakai,duitnya cuma itu kok,kalo negara lain juga pakai,pokoknya ganyang malaysia,biar pk senjata bajakan juga gpp..biarin pulpennya balik kemukaku..daripada ambalat diambil,kebudayaan lenyap,gara gara terlalu lama ngebenahin diri kita sendiri..

  11. babacilukba says:

    waaah… ternyata ayahnya benua nonton sinetron & AADC juga. hiihiihiiii…

  12. oculy says:

    benar juga ya ..jadi malu neh

  13. frazi says:

    Ya..betul juga kita harus koreksi diri jangan sampai semut diseberang tampak kelihatan gajah dipelupuk mata tak kelihatan kata pepatah

  14. kelikyogya says:

    Kalau ada yang ngeklaim baru kita merasa kalau selama ini kita punya….kemana saja yaa kita selama ini.

  15. Saatnya menunggu claim-claim yg lain, mungkin Bahasa Indonesia, Lagu Kebangsaan, atau sekalian tuch Lambang Garuda di claim sekalian… Lha wong masih serumpun koq sukanya ngrayah harta sodaranya sendiri, gmn ini…. salah siapa

  16. supriatno says:

    Coba dulu bung karno jadi ganyang Malaysia, mungkin gak ada kasus kaya diatas… BTW Soal mobil Hyundai, memang dulu pake nama Bimantara, tapi sekarang Hyundai di Indonesia sudah jadi ATPM loh ( pembelaan seorang karyawan he he he )

  17. setuju om… mari kita berbenah :)

  18. an9el says:

    setuju sama komen kelikyogya :)

  19. saung says:

    ok pa
    memang intropeksi ke dalam dulu buat bangsa kita
    well sypun posting tentang klaim-mengklaim ini.
    MERDEKA bung
    -salam-

  20. Rudy HP says:

    Setuju bgt mas. Tapi saya rasa negara tetangga wajar mengakui semua itu kok. Wong di negara asalnya aja gak di perhatikan apalagi dilestarikan dan dikembangkan.

  21. ts says:

    ayo berbenah, jangan ngurusin jabatan dan sibuk berpolitik ria mencari kedudukan.

  22. Yanti says:

    Mungkin harus ada hukum yang lebih kuat agar cagar budaya kita tidak di ambil oleh negara lain (Malaysia) . Kalau sudah begini da ri pemerintah, dan kita semua harus mencari ciri dari negara kita. Kalau kita nonton film India, orang langsung tahu bahwa itu ada lah negara India dengan baju sarinya dengan mendinya, dengan nyanyiannya, tapi kalau film Indonesia ditonton begitu banyak orang luar negri apa sudah menjadi ciri khas Indonesia? Apa yang menjadi ciri khas Indonesia film nya ? Tidak ada! Marilah kita mulai dengan menjadi ciri bagi negri kita sendiri.

  23. fianty says:

    hmm.. miris rasanya membaca tulisan ini. seperti pisau bermata dua.

  24. cewemalesjuga says:

    ehm…kalo yang ini udah males deh g ngebahasnya…bukannya udah dari dulu perkaranya???……..yang g heran kita sendiri pilih kasih dengan reaksi kita…buktinya giliran si endet jadi issue baru muncul tuh dukungan buat memproteksi dan tuntutan2 segala ke si malingsia itu….
    trus emang dari kasus reog ponorogo, batik, angklung dan teman2nya pade kemana tuh dukungan…kok cuman mengerutu sendiri??..apa karna si wacik itu orang bali kali makanya dia baru tersentuh sama urusan ini….basi!!…sekali lagi buat si wacik…basi lu!!…trus sama si dai bahtiar…yang dari tampangnya aja udah keliatan kalo tuh orang cuman cari posisi aman/ posisi enak!…sekali lagi basi ya!…..

  25. thopo says:

    yach khan semboyanya trully asia :D
    mungkin cita2nya semua budaya diasia itu bisa ditemukan di malaysia

  26. Hadi Nur says:

    Kita memang harus koreksi diri

    salam sukses
    http://suksesterusdong.blogspot.com/

  27. apapun alasannya tidaklah baik dan bijak mengaku2 apa yang bukan milik ..
    malu rasanya ..

    kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang

  28. anny says:

    Rezaaaaaa sorry komenku diatas salah nyebut nama kekekekkk…..abis baca blognya abrus trus baca punyamu kebetulan tema nya sama hi..hi…

  29. chandra says:

    Dialog Rangga itu benar2 mengena,bos!

  30. weni says:

    Prihatin bgt dengan kondisi kita,, semoga kita semua bisa bersatu…
    lam kenal pak..

  31. rice2gold says:

    hak cipta hanya milik Allah saja dan semua kita hanyalah yang dititipi untuk menggunakan,

  32. julie says:

    mari kita mulai

  33. me says:

    wah, isu mem-paten-kan budaya indonesia sudah dari dulu gaungnya, tapi kok geraknya lama sekalee ya.. thanks tuk tulisannya, setidaknya mengingatkan untuk tidak saling melempar pulpen :)

  34. Lamunadi says:

    Sy akan selalu mengulang-ulang, bahwa penguasa negeri ini tidak pernah peka terhadap harga diri bangsa. Mereka sibuk dengan kekuasaannya dan hanya memikirkan bagaimana agar kekuasaannya langgeng. :(
    Salam.

    Komen lainnya.
    Puasa sih puasa … tapi mulut ga perlu diplester …
    Entar gimana pas maghrib? mo minum lewat hidung ya… ? :)

  35. Akuntansi says:

    Wah setuju mas, lebih baik kita berkaca dahulu dengan diri kita..

  36. Widdy says:

    Setuju bang..

    Salam :P

  37. MT says:

    biarin aja deh budaya kita diakui… tinggal selanjutnya kita akui Malaysia sebagai bagian dari endonesya, hehehe….

  38. Ini akibat kita anak bangsa terbius oleh budaya asing dan melupakan budaya sendiri hingga dicaplok Malaysia.
    Contoh :
    sebagian kita gemar ikuti budaya berbikini ala kontes miss universe, yg tentu menghabiskan dana besar dan tanpa hasil, seandainya biaya tersebut untuk melestarikan budaya tdk sia-sia.
    Ubahlah kontes Putri Indonesia yg sekedar “kontes kemolekan tubuh” menjadi “kontes budaya Nusantara”

  39. zirconteam says:

    PR besar memang terbentang kian hari kian menumpuk. Berharap terselesaikan dengan baik oleh hanya Pemerintah tanpa dukungan kita menyisahkan kenihilan belaka. Kita perlu berpikir bersama untuk memahami, menganalisa dan memecahkannya. Kita mutlak butuh persatuan dan kesatuan!

  40. dylan says:

    berpikir sebelum bertindak memang lebih baik pak

    warm regards,

    dylan
    http://www.photoshopfreebies.com
    find everything about photoshop

  41. sly says:

    Nggak usah macam² dulu.
    Hentikan export manusia ke Malay aja.
    Pernah nggak pemerintah kita mengadakan dengar pendapat atau cerita tentang TKI yang tingal di sana?
    Siapa sangka kalau sampai disana mereka dipekerjakan sbg duta transfer budaya???
    Jangan cuma ditanya berapa gaji mereka untuk di potong pajak!
    Perpindahan manusia (secara global / banyak) sama dengan perpindahan budaya. Orang dalam satu daerah berpindah tempat bersama-sama dalam satu waktu pasti akan membawa serta kebudayaannya.
    Betulll???

  42. rinjari says:

    setuju Pak..

  43. Mada Suzamar says:

    malu ah ngakuin punya orang…

  44. Robertfel says:

    saya uda ikutan dan ternyata tidak semudah yg dibayangkan :D

  45. re91na says:

    ” Kalo barang kita udah hilang atau diambil orang, baru terasa betapa berharganya itu bagi kita… Nah sekarang Malysia tampilkan tari pendet sbg salah satu tariannya, kok bisa ? Maybe karen kita kurang juga memprotect and menghargai budaya kita.. pernah nonton tari PENDET gak ? bisa nari Pendet gak ? atau liburan ke Bali atau ke luar negeri ? ASK YOUR SELF ….

    all the best and salam kenal..”

  46. rh says:

    aku juga masih sering beli bajakan juga hiks …

    :-)

  47. penyuuuuuuuu says:

    Kita tetapkan saja Malaysia sebagai Provinsi ke 34 dari NKRI. Kasihan kita menyaksikan upaya2 yg telah dilakukan oleh Malaysia agar dapat diterima menjadi bagian dari Indonesia. Mulai dari Batik, Lagu & tarian, bahkan pulau2 Indonesia.

  48. [...] blog sahabat, aku membaca informasi bahwa negara tetangga menawarkan pembayaran yang tidak sedikit untuk membeli [...]

  49. Rian says:

    Mencintai budaya sendiri yg tidak ada sekarang ini mas. Itu yg disayangkan. Minimal kita mengetahui budaya di kota kelahiran masing2.
    Utk masalah paten, pemerintah pasti tidak tutup mata akan hal ini. Perbuatan yg mesti kita lakukan adalah, tingkatkan rasa nasionalisme yg tinggi dan tanam dalam diri masing dulu.
    Setuju banget dengan artikel ini. Mantap !

  50. etoy says:

    Sebaiknya setiap masalah tidak diselesaikan dengan emosi , harus di teliti dan selidiki terlebih dahulu . Karena setiap akibat ada penyebabnya .
    Akibatnya kita marah dan sedih , sebab produk dan kebudayaan kita di ambil oleh negara lain . Yang menjadi pertanyaan besar adalah , kenapa mereka melakukan hal itu ? apa sebabnya ?
    apakah karena sinetron - sinetron yg di tayangkan di tv setiap hari? atau karena hal lain.
    lagi - lagi jalan keluarnya adalah sama - sama introspeksi , saling menghargai , komunikasi dan silaturahmi .

  51. asurahman says:

    bener mas mungkin sebagaian dari kita ga tau tuh saung mang ujo… berarti malaysia krisis identitas diri karena gak bisa menggali apa ayng ada di daerahnya atau memang di negaranya tidak mempunyai sesuatu yang perlu di gali atau dikembangkan sehingga mencaploki budaya orang lain… sementara kita budaya begitu banyaknya, perhatian pemerintah…….? jawab sendiri aza

  52. [...] itu. Selain itu di duna blogging banyak muncul tulisan tentang hal yang sama.Sebuah tulisan dari Suami malas cukup terasa bijak. Sudahkah kita memperbaiki diri ke dalam. Sudah selayaknya jika kita menunjuk [...]

  53. melly says:

    kita juga belum tentu baik dari pada mereka.
    mereka jg belum tentu baik dari pada kita.
    mari saatnya kita melestarikan budaya kita Indonesia :)

  54. dhimz says:

    asem kata-katanya bener semua!! hahaha,, jadi malu

    ayo kita lakkukan sesuatu!!

  55. Teknorev says:

    Wah datang ke sini masih belum di update rupanya..hehe.

  56. indr@ says:

    mas gardino.. saya mau gabung afiliasi lessthan13 trus lagi direview.. mbok ditambah rekening BRI gitu.. ato paypal malah OK tuh.. aku ga punya BCA or Mandiri..

  57. suamimalas says:

    @indra:paypal juga bisa koq mas…nanti ditambah opsinya deh…tapi kursnya ikut kurs paypal yah… :D

Leave a Reply