Kasih sayang itu juga bisa berbentuk ketegasan!

Terus terang sebagai seorang ayah, saya ini termasuk orang yang sulit untuk marah sama anaknya. Mungkin karena referensi dari ayah saya dulu yang juga jarang memarahi saya. Walhasil, saya selalu merasa bersalah kalau sedikit menaikan nada suara saya di depan anak saya.

Sementara di sisi lain anak saya yang sekarang berusia dua tahun itu masuk kategori hyperaktif. Kondisi ini membuat gerak motoriknya sangat sulit dikontrol. Kejadian deh selama ini istri saya yang ‘cerewet’ mengingatkannya ini dan itu. Sementara saya selalu menjadi tempat pelariannya kalau dimarahi bunda.

Salah satu kebiasaan buruknya adalah memukul benda-benda disekitarnya tanpa alasan yang jelas. Bukan karena ia membencinya, tapi hanya merupakan salah satu bentuk ekspresinya dan kelebihan tenaganya. Ini pula yang selalu menjadi pembelaan saya kepada istri ketika disuruh memarahi anak saya.

“Benua, gak boleh pukul-pukul…” paling maksimal itu yang saya lakukan. Itupun dengan nada seadanya.

Aksi ini pula yang sudah beberapa kali dilakukannya ketika berada di rumah eyangnya. Sasarannya adalah lemari kaca di sebelah TV. Entah kenapa ia selalu memukul lemari itu sambil sedikit gemas. Bundanya sendiri selalu memperingatkannya tanda khawatir, mengingat lemari itu terbuat dari kaca. Bahkan beberapa kali diberi hukuman dengan berdiam dua menit di dalam kamar karena aksi pemukulan lemari itu. Sementara saya…justru selalu menjadi teman setianya sewaktu dihukum di dalam kamar. Rasanya ini pula yang membuatnya kerap kali melakukan tindakan itu lagi.

Adalah hari sabtu kemarin ketika kejadian itu kembali berulang. Kebetulan keluarga besar sedang berkumpul jadi keadaan begitu ramai. Benua, ketika itu sedang duduk dipangkuan saya. Dalam keadaan yang ramai itu dia tiba-tiba turun dari pangkuan saya dan mendekati lemari ‘sahabatnya’ itu. Dan seperti saya duga sebelumnya ia kembali memukul lemari itu (biasanya untuk menarik perhatian orang sekitarnya).

DAAAARRRR……PRAAANGGGG

Kali ini ada yang berbeda. Kaca setinggi dua meter itu rupanya sudah tak kuat lagi menerima hantaman Benua. Dalam sekejap semuanya runtuh menghujam ke anak saya. Semua tiba-tiba berhenti. Keadaaan yang tadinya ramai tiba-tiba senyap. Posisi benua saat itu mengadap kaca dan membelakangi kami. Saya menahan nafas sekian detik, semua pun seolah terpaku tanpa ada yang bergerak. Tak terbayang apa yang bisa dilakukan kaca dua meter itu terhadapa tubuh kecil anak saya.

“Addduuhhh…Caaakkkiiittt!!!” tangisan anak saya memecah keheningan kami.

Saya pun langsung meraihnya kepelukan saya. Darah mulai berceceran. Baju saya depan belakang terkena darahnya. Dengan cepat saya membawanya ke kamar mandi. Sambil gemetar saya memerikasa kondisinya, dan bersiap untuk keadaan terburuk.

Tangannya sobek lumayan lebar dan dalam, inilah sumber darah yang mengucur tadi. Saya tutupi dengan handuk kecil untuk menahan darahnya. Kemudian saya basuh dengan air untuk mensterilkannya dan berharap jika ada sisa pecahan kaca yang tertinggal bisa ikut hilang.

Malam itu benar-benar panjang. Rasanya ini luka benua yang terparah. Toh, saya masih bisa bersyukur kepada Allah karena anak saya yang tepat berada di bawah kaca itu masih dalam lindungan-Nya. Karena meskipun tangannya mengeluarkan darah cukup banyak tapi hanya di telapak tangan itulah bagian yang terluka.

Setelah semuanya reda saya merenung sambil tetap memeluk benua yang agak lemas. Rasanya ini buah dari ketidak tegasan saya melarangnya memukul lemari itu. Saya tahu persis bahwa kaca itu tidak begitu kuat, namun rasa takut dibenci anak karena memarahinya membuat saya enggan bersikap tegas. Ternyata sikap itu justru menjerumuskan ke hal yang berbahaya.

Karena itu Benua sayang, jika nanti kamu merasa ayah melarangmu dengan keras, itu semata karena ayah sayang kamu. Semoga kamu bisa memahaminya kelak.


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • del.icio.us
  • E-mail this story to a friend!
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Print this article!
  • TwitThis


18 Comments »

  1. codet Said,

    May 21, 2009 @ 11:04 am

    Wah setuju saya, jadi enggak menyesal dulu sering dimarahi.

  2. depz Said,

    May 21, 2009 @ 12:51 pm

    semoga benua menjadi anak yg cerdas dan diberkati plus memberkati banyak org
    AMien

  3. babacilukba Said,

    May 21, 2009 @ 8:55 pm

    Huuhuuhuuu, tapi sekarang Benua sudah nggak papa kan, mas?

  4. Anggara Said,

    May 22, 2009 @ 10:31 am

    tenang bro, it is happen sometimes koq

  5. suamimalas Said,

    May 22, 2009 @ 10:49 am

    #codet: saya juga jadi berpikir gitu sama ibu saya…

    #depz: amien…

    #babacilukba: hmmmm…kategori gak apa-apanya gimana yah? tapi yah selain luka lebar ditangannya semua udah normal koq….lukanya tinggal nunggu kering

    #anggara: iye neh…keknya si bro dah lebih pengalaman…maklum deh sayah baru satu nih… :D

  6. oky de la rocha Said,

    May 22, 2009 @ 11:56 am

    hmmmm very inspiring bro, thanks for share

  7. sucimanize Said,

    May 22, 2009 @ 12:25 pm

    ehm….
    anak yang hyper itu kek na ga bisa diamrahi deh malah makin menjadi mas, adekku juga seperti itu tapi dibilangin malah makin jasi makanya diliatin aja dulu baru dibilangin pelan” akibatnya apa kalo mang belum mempan juga biar aja sampe ada hal yang buat ia jera nanti dia akan tau sendiri kok….

    maaf kalo sok tau…lam kenal mas :)

  8. ahza Said,

    May 22, 2009 @ 12:46 pm

    Semoga bisa mengambil hikmah dari semua kejadian itu yah Mas… :)

  9. papadanmama Said,

    May 22, 2009 @ 1:31 pm

    tegas bukan berarti tidak sayang, semoga pengalaman kmrn bs mengingatkan kita sebagai orang tua utk lbh berhati-hati dalam menjaga anak2 kita, salam :)

  10. tanyasaja Said,

    May 22, 2009 @ 6:04 pm

    aku akan belajar darimu ketegasan itu kawan :)

  11. rina Said,

    May 22, 2009 @ 9:12 pm

    mereka akan mengerti ketika dewasa nanti..(sok dewasa) wkekeke :D

  12. Gunawan Said,

    May 24, 2009 @ 8:18 pm

    Wah mirip ponakanku..suka agresif..

  13. jeansboeloek Said,

    May 26, 2009 @ 11:01 am

    Mas, jangan pernah menyesal dg tindakan yg anda anggap baik. Saya pernah mengalami ketika anak saya lari-larian dan naik keatas meja lalu meja beralas kaca 2 cm itu pecah dan anak saya luka kakinya. Saya bawa malam itu ke Klinik terdekat sambil tak lepas doa mengiringi langkah dan tangis si anak. Dan semua berjalan biasa saja. Lukanya sembuh dan saya haturkan terimakasih pada YME.
    Anak adalah cermin kita. Asuhlah anak dengan cinta kasih bukan emosi. Jika kita marahi anak sama dg kita marahi diri sendiri. Prinsipnya: Kamu adalah darah dari darahku, daging dari dagingku.

  14. hes Said,

    May 26, 2009 @ 5:17 pm

    .. (catatan buat diri sendiri juga) mungkin daripada memarahi, kita alihkan saja perhatian anak-anak atau ajak mereka melakukan hal-hal yang lain saat mereka melakukan sesuatu atau dekat-dekat dengan benda yang berbahaya. begitu kali ya? :mrgreen:

  15. tyasbudianto Said,

    May 28, 2009 @ 4:16 pm

    ketegasan itu memang harus sebagai orang tua juga harus mencontohkan jangan hanya berkata namun tidak berbuat itu tidak akan ada ketegasan dan wibawa sebagai orang tua juga hilang di mata anak2nya dan keluarganya.
    semoga dapat menjadi pelajaran yang berharga suatu ketegasan itu harus.

  16. mamah fahmi Said,

    May 28, 2009 @ 5:38 pm

    Terima kasih atas sharing pengalamannya. Kadang sy takut memarahi anak karena takut tdk disayang anak kalau udah tua nanti. Tp smoga wawasan sy menjadi lebih

  17. pande Said,

    June 1, 2009 @ 7:57 pm

    udah ada yang ngasih tau blon ya hehe??
    mas coba liat acara The Nanny deh di Metro TV
    biasanya sih setiap Sabtu jam 5, gak tau deh apa
    udah ubah jam tayang

    bagus dan mendidik untuk orang tua yang mengasuh
    anak yang masih kecil

    salam

  18. dhimz Said,

    June 19, 2009 @ 4:39 pm

    pengalaman yang berguna buat calon suami,,

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment