Orang buta yang sekolah!

Saya jarang melakukan copy paste kayak gini! Tapi cerita yang ditulis kakak saya ini bener-bener bikin saya pengen menyebarkannya ke orang banyak. Cuma satu komentar saya…banyak-banyak bersyukur deh…emang ceritanya gimana? ini dia!

14 Februari tahun ini gue habiskan dengan menghadiri acara-acara alternatif. No candle light dinner, no flowers and no chocolate covered candy heart to give away… hehe, jadi kaya Stevie Wonder.

Di siang hari gue datang ke acara diskusi yang diadakan sebuah milis mengenai akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). In case the term is unfamiliar to you, ABK ini contohnya tuna netra, tuna rungu, dan anak-anak dengan keterbatasan lain, baik mental maupun fisik. Acara gue kelihatan mulia sekali ya? Hehe… sejujurnya, alasan pertama kenapa gue datang adalah untuk mendukung temen gue, yang jadi moderator di acara diskusi tersebut. Tapi di tengah acara, gue terkesan dengan salah satu nara sumber yang memiliki keterbatasan dengan penglihatannya. Namanya Mimi Lusli. She’s famous, you know. Coba aja google namanya, akan ada banyak sekali link yang menyebutkannya.


Mbak Mimi mengalami penyakit mata (sayang gue lupa nama penyakitnya), dimana dia kehilangan penglihatannya secara perlahan-lahan. Dia kehilangan 100% penglihatannya di umur 17 tahun. What a sweet-seventeen birthday it was!


Mbak Mimi berbagi pengalamannya mendapatkan akses pendidikan. Walaupun punya keterbatasan di penglihatan, Mbak Mimi nggak pernah sekolah di sekolah khusus. Dia masuk SMA regular (whatever the term ‘regular’ refers to), kuliah di perguruan tinggi dan mengambil pendidikan keguruan. Berhubung semuanya adalah kelas regular, maka fasilitas untuk ABK seperti Mbak Mimi masih sangat terbatas. At least pada saat itu ya.


Kebayang nggak, ketika dia kuliah, kalau ada tugas, kerjaan Mbak Mimi menjadi tiga kali lebih banyak dari teman-temannya yang lain. Pertama, dia harus memastikan halaman di buku yang menjadi tugas dan meminta seorang teman untuk membacakan halaman-halaman tersebut, karena bukunya adalah buku referensi biasa, bukan buku braille. Kemudian dia akan membuat tugas tersebut dalam huruf braille, karena huruf-huruf tersebut yang aksesibel untuk Mbak Mimi. Terakhir, dia harus meminta seseorang untuk menerjemahkan tugas dalam huruf braille tersebut ke dalam huruf latin. Ya kan dosennya Mbak Mimi bisanya baca huruf latin.


Terus kalo giliran ujian yang nggak take home test alias harus dikerjakan di tempat, bagaimana? Nah, Mbak Mimi belajar mengenal dan memakai mesin tik. Jadi, kalau ujian yang on the spot, dia siap dengan mesin tiknya dan mengetikkan jawabannya di kertas. Ini terutama berguna kalau ujiannya multiple choice.

Tahu nggak, Mbak Mimi cerita, awalnya kalau ujian dia dan mesin tiknya biasa duduk paling depan di kelasnya. Lama-lama, dosennya curiga, karena mahasiswa yang lain kok suka larak-lirik. Ternyata ketahuan, kalo Mbak Mimi DICONTEKIN! Karena dia pakai mesin tik, jadi mahasiswa lain bisa dengan bebas melirik kertas jawabannya. Gila ya, mahasiswa-mahasiswa itu ! Kok ya nggak tahu malu banget sih! Bukannya bersyukur dikasih penglihatan yang bagus, eh malah dipakai buat ngelirik nyontek dari ABK! Akhirnya Mbak Mimi dipindahin duduknya, jadi paling belakang. Temen-temenya jadi nggak bisa nyontek lagi deh..hehe..

Gue terkesan sama usahanya Mbak Mimi. Keterbatasannya nggak membut dia menuntut perlakuan yang berbeda. Instead, dia menyesuaikan diri dengan lingkungan yang saat itu belum terlalu mendukung keterbatasannya. Of course she would love to have all the supporting facilities if it was available back then, tapi ketika fasilitas itu nggak ada, ya dia berusaha untuk menciptakan cara lain yang mendukung. Nggak semua orang punya semangat juang seperti itu. Ada orang yang kerjanya hanya menyalahkan keadaan. Menyalahkan orang lain. Bangun kesiangan, nyalahin weker yang gak bunyi. Terlibat obat terlarang, nyalahin lingkungan dan temen-teman yang ngenalin. Kaya nggak pernah dikasih kesempatan memilih aja.

Well, that’s a hell of a long writing…J Thanks buat Mbak Mimi untuk penyadarannya, thanks buat Fitri yang udah ngundang gue ke diskusi.

(Oh iya, malamnya gue ke EX karena ada festival musik indie. Gue nonton PURE SATURDAY!.. Untuk ini gue nggak perlu tulis panjang. Satu kata aja, PECAAAHHHH!!!!!)

Pengen kasih komen atas cerita ini? yah jangan disini…monggo ke tempat asalnya ajah di blog kakak saya yang disini yah!


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • del.icio.us
  • E-mail this story to a friend!
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Print this article!
  • TwitThis


Comments are closed.