Sekolah dan rasa keadilan sosial!

Wah senangnya, saya banyak dapat teman baru karena posting tentang ikan asin anak saya. Ini merupakan hari terakhir trial anak saya di sekolah itu. Dan kemudian dia akan melajutkannya tahun depan nanti.

Sebelumnya saya mau bercerita, gimana ceritanya anak saya bisa nyasar disana. Jadi sekolah yang saya ceritakan itu punya dua sistem, satu regular a.k.a nasional dan kedua itu internasional disemua tingkatan mulai dari toddler hingga universitas. Nah, sistem internasional inilah yang menuntut bayaran hingga 25-30 juta hanya untuk uang masuknya saja (belum biaya bulanan). Wah, berarti saya tajir dounk bisa menyekolahkan anak disana.
Sebenarnya tidak juga. Jadi sebelum dan selama trial itu, istri saya bolak-balik menemui kepala sekolah dan administrasinya untuk keringanan biaya. Dari pihak sekolah menyarankan kami untuk menyekolahkan anak saya di sistem regular saja yang bayarannya tak sampai seperlima kelas internasional.

“Kurikulumnya dan kualitas gurunya sama koq ibu, hanya fasilitasnya yang sedikit beda” begitu keterangan yang diberikan pihak sekolah.

Tapi saya dan istri ngotot bahwa anak saya ini ‘gifted’ dan cerdas sehingga pantas mendapat fasilitas lebih. Setelah empat kali bujuk rayu, dan kepala sekolahnya melihat sendiri kemampuan anak saya, akhirnyalah anak saya disetujui masuk sistem internasional dengan bayaran regular (baik uang masuk maupun uang bulanan). Berarti mulai januari nanti anak saya akan masuk kelas……..

Reguler!!! loh koq gitu? Katanya dah dapat keringanan dari pihak sekolah? Betul, tapi ada sejumlah pertimbangan yang menghantui saya.

Pertama, saya itu rada penasaran koq bayarannya itu bisa jauh banget. Istri saya pun mengunjungi sekolah dengan sistem regulernya untuk menuntaskan rasa penasaran. Di sana istri saya menemukan dan mendapat info bahwa di dalam kelas selain murid yang orang tuanya berpenghasilan rata-rata, banyak yang yatim piatu, dan anak-anak kurang mampu macam petani-petani sekitar (sekolah ini, sekolah alam). Jadi bayaran yang mahal itu merupakan subsidi dengan perbandingan 1 murid internasional menanggung bayaran 10 anak regular.

Saya sih gak masalah kalau keberadaan anak saya menutup kesempatan mereka yang berpunya, toh mereka bisa cari sekolah lain dengan biaya segitu. Tapi koq rasanya ada yang aneh kalau keberadaan anak saya ini menghilangkan kesempatan belajar untuk 10 orang yang tak mampu. Jadi lebih baik posisi anak saya ditempati mereka yang memang mampu mensubsidi.

Kedua, dijaman yang serba aneh begini, rasanya lebih mudah untuk melongok keatas dan terkagum dibandingkan melihat kebawah dan berempati. Makanya menurut saya lebih banyak yang bisa dipelajari anak saya ketika bergaul di kelas dengan mereka yang makan ikan asin pun mikir, dibanding bergaul dengan mereka yang mungkin punya ikan hiu sendiri di rumah.

Apa lantas tidak sayang melepas segala fasilitas itu? Ah, di dunia nyata nantinya anak saya akan sering berhadapan dengan segala situasi dimana fasilitasnya serba terbatas koq. Legenda hidup Valentino Rossi pembalap motogp paling berbakat saja meraih gelar juara dunianya dengan fasilitas motor yang jauh kalah kencang dibanding Casey Stonner dan jauh kalah canggih dibanding Pedrosa. This is real life! Lagi pula fasilitas sistem regulernya tidak jelek koq, hanya tidak se-wah yang kelas internasional.

Jadi anakku jika suatu saat kamu bertanya koq saya gak jadi masuk kelas internasional, ini jawabannya nak! Perduli terhadap sesama jauh lebih penting dibanding egoisme demi mendapat fasilitas. Lagi pula sesama ikan asin dilarang saling mendahului!


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?
  • del.icio.us
  • E-mail this story to a friend!
  • Facebook
  • LinkedIn
  • Print this article!
  • TwitThis


49 Comments »

  1. kilaubintang Said,

    December 19, 2008 @ 9:34 am

    rasanya untuk pak malas ini, kelas internasional juga bisa dibayar koq, apalagi sudah menikmati $$$$$ hihihihihihi

  2. ruanghati Said,

    December 19, 2008 @ 9:37 am

    Yes .. kalo bapaknya aja kayak gini .. .. heheheh …. anakknya juga mestinya sejiwa hahahah ….

    sesama ikan asin dilarang saling mendahului …..

  3. runi Said,

    December 19, 2008 @ 9:51 am

    auntie setuju sama ayah! sesama orang kecil dilarang mendahului! loh??!!??!!

  4. babacilukba Said,

    December 19, 2008 @ 10:11 am

    Waduuhh, biaya sekolah skrg mahal bgt yah? huuhuuhuu. gimana nanti kalo aku dah pny anak???

  5. maureen80 Said,

    December 19, 2008 @ 10:27 am

    hahaha… sepp… walaupun lucu, tapi ada inti yang positif bisa diambil dari keputusan ini… :)

  6. fianty Said,

    December 19, 2008 @ 10:27 am

    jadi merinding melihat mahalnya biaya sekolah anak dibawah wajib belajar. tapi yang penting masih bisa sekolah, sudah harus sangat disyukuri. dan yang terpenting adalah pendidikan akhlak dan iman di rumah. selamat berjuang!!

  7. enalt Said,

    December 19, 2008 @ 10:29 am

    selalu ada jalan bagi mereka yang ingin sukses…

  8. yans Said,

    December 19, 2008 @ 10:32 am

    kok beda ya, namanya “Suami Malas”, tapi kayaknya suami paling rajin sedunia tohh…hee..hee

    yans
    http://yans.blogdetik.com

  9. Pangeran tampan nan kaya raya Said,

    December 19, 2008 @ 10:50 am

    Pemikiran yang bijak.
    Lagipula kalau di paksain di Internasional justu kemungkinan besar nantinya bikin si ika……eh anak sampean minder (kidink mas :D)
    Bisa2 ntar untuk ngilangin rasa mindernya dia minta yang aneh2 ke sampean.
    Mo sekolah rakyat pun kalau si anak have a gift pasti nantinya tetap berhasil.
    Tergantung bimbingan attitude dari orang tua aja yg harus bener2 pancen manteb (sok teung mode on, padahal cw aja g punya apalagi anak hahahaha….)

    Sekarang ini setelah baca artikel sampean saya jadi stress sendiri mikir biaya sekolah anak saya (yg sekarang statusnya masih nyari calon ibunya)

  10. andivan Said,

    December 19, 2008 @ 12:28 pm

    Dosen-dosen Profesor saya sewaktu kuliah mayoritas datang dari daerah yang latar belakang pendidikan dasarnya notabene jauh dari fasilitas. Tapi toh mereka berhasil justru karena keprihatinan itu. Tapi semuanya dikembalikan lagi pada masing-masing orang.

  11. soerdjak Said,

    December 19, 2008 @ 1:00 pm

    saya juga sering denger tuh tentang subsidi silang itu. salah satu cara ‘memaksa’ yang mampu untuk membantu yang kurang mampu. untung sadar juga pak akhirnya,hehehehe.

  12. rice2gold Said,

    December 19, 2008 @ 1:16 pm

    wah jadi laper lagi nih denger ikan asin, kirim atu dong?

  13. paijomania Said,

    December 19, 2008 @ 1:39 pm

    disetiap kesulitan pasti ada kemudahan kan bro. saya juga jadi mikir, brp ya 5 tahun ke depan biayanya ketika anak saya sekolah???

  14. cyperus Said,

    December 19, 2008 @ 1:45 pm

    hehehe..

    bisa aja si bos ini..

  15. julian Said,

    December 19, 2008 @ 1:46 pm

    mudah2an anaknya jadi pemimpin besar dinegeri ini yang mempunyai empati yang besar terhadap rakyatnya…

  16. budiono Said,

    December 19, 2008 @ 1:51 pm

    sekolahnya pakai internet aja deh. bisa lebih murah dan materi pelajarannya terus terupdate. Tapi ijazah gimana? Apa masih perlu ya ijazah?

  17. uni Said,

    December 19, 2008 @ 2:27 pm

    hmmm… terkadang dengan fasilitas yg terbatas, jiwa kreatif lebih mudah tumbuh :D

  18. easy Said,

    December 19, 2008 @ 2:35 pm

    suami malas yang sangat peduli dan rajin dengan pendidikan dan masa depan anak :)

    sepakat mas dengan semua alasan2 yang diulas. bagaimanapun anak perlu bersosialisasi dan menghadapi hidup yang sesungguhnya

  19. Professor Chaos aka Greenapple2008 Said,

    December 19, 2008 @ 2:38 pm

    jgn tergiur harga,mahal blm tentu yg terbaik,dgn ikan asin juga bisa jd genius.contohnya…belum ada sih hehe,..

  20. mrwhy Said,

    December 19, 2008 @ 3:55 pm

    Saya kagum pada ending postingan-nya. Cara menasehati anak dengan sangat bijak. Harusnya bukan suami malas … tapi “AyahBijak”

  21. dandoenk Said,

    December 19, 2008 @ 4:10 pm

    bener2 kaum ikan asin… wekekekkee :D

  22. Aunty Sang Anak "Ikan Akin" Said,

    December 19, 2008 @ 4:34 pm

    Aunty mau bilang…keponakan aunty yang tampan itu akan mendapatkan seluruh fasilitas itu nanti…dengan hasil keringatnya sendiri…bersama ayah dan bundanya…amiiin

  23. Just2live Said,

    December 19, 2008 @ 5:59 pm

    Hm, Keren! Bisa ngambil keputusan sedemikian berat! Saya yakin ketika mengambil keputusan itu, pasti ada kecenderungan untukmemeprtahankan kelas Int’ kan? Tapi akhirnya… Hm, GREAT! Anda super bijak!

    Sukses selalu.

  24. fanabis Said,

    December 19, 2008 @ 6:06 pm

    beruntung sekali. semoga anaknya betah , nyaman dan pintar

  25. det Said,

    December 19, 2008 @ 6:17 pm

    wekekekeke…. ikan asih kalo di kelas mana bisa berenang om? :mrgreen:

  26. lischantik Said,

    December 19, 2008 @ 10:11 pm

    Dimanapun sekolahnya klo anak ga da niat belajar ga ngaruh terhadap kepintaran anak. Jadi yang terpenting kemauan anak untk mau belajar.

  27. ullyanov Said,

    December 19, 2008 @ 11:34 pm

    Tidak ada matapelajaran Keadilan di sekolah. Maka, pelajaran keadilan itu bisa didapat dari luar (aktivitas belajar-mengajar) di sekolah. Orangtua yang baik adalah orang tua yang juga “menyekolahkan” anaknya di luar sekolah.

  28. 'dee Said,

    December 20, 2008 @ 8:10 am

    falsafah yang luar biasa indah…

    anak-anak kami bersekolah di sekolah swasta yang walaupun tidak semahal sekolah yang diceritakan di sini, tetap saja biaya yang harus dibayarkan saat masuk dan tiap bulan menyebabkan tersaringnya anak-anak yang sekolah di sekolah tersebut adalah anak-anak dari golongan sosial dan kemampuan finansial orang tua yang tertentu.

    dan saat teman-temannya diantar ke sekolah dengan mobil lengkap dengan supirnya…
    sejak usianya 9 tahun kami ijinkan anak kami pergi ke sekolah dengan bersepeda.

    efeknya langsung tampak. bukan saja dia lebih sehat, tetapi kepercayaan dirinya juga meningkat pesat. pergi dan pulang sekolah sendiri membuatnya merasa mandiri dan mampu mengatasi keadaan-keadaan yang terjadi dalam perjalanan pergi dan pulang sekolah. memastikan bahwa sepeda diletakkan di tempat yang aman dan terkunci juga melatih rasa tanggung jawabnya.

    tentu saja kami memperhatikan faktor keamanan. jalan yang ditempuh anak kami bukan jalan raya tetapi dia memotong jalan melalui jalan-jalan kecil, termasuk jalan tanah tak beraspal keluar dari kompleks perumahan, melalui kampung-kampung perumahan penduduk yang berada di antara kompleks rumah kami dan sekolahnya.

    dan…
    yang terpenting, secara halus kami memang ingin mengajarkan kesederhanaan yang tercermin dari cara hidup sehari-hari pada anak-anak kami dengan tidak terlalu memanjakan dan menyediakan fasilitas yang berlebihan bagi mereka. kami ingin anak-anak tumbuh sehat, cerdas, mandiri dan tetap membumi.

    melewati kampung-kampung perumahan penduduk setiap hari, kami yakin juga akan melatih rasa syukur dan rendah hati serta kepekaan sosialnya.insya allah.

    salam !

    d.

  29. liannyhendrawati Said,

    December 20, 2008 @ 10:56 am

    Biaya pendidikan sekarang memang tidak murah……

  30. aribicara Said,

    December 20, 2008 @ 11:48 am

    Wach..Salut dech sama Abang,,, Dan aku jadi ingin ikut berterimakasih buat abang secara langsung atau tidak langsung abang sudah membantu beberapa anak2 yatim itu….

    saL4M ..

  31. munawar am Said,

    December 20, 2008 @ 12:17 pm

    Bagaimana dengan Undang-undang Badan Hukum Pendidikan? Apa BHP muncul juga karena dilatarbelakangi oleh apa-apa yang direfleksikan pada postingan di atas?

    daripada sekolah internasional, mending Sekolah Internet saja? he he he….

  32. oedien Said,

    December 20, 2008 @ 2:58 pm

    hemm pelajaran yang sangat baik untuk ditiru..

  33. khofia Said,

    December 20, 2008 @ 4:34 pm

    iya. di reguler bagus tuh pak. biar anaknya lebih bisa menghargai teman2nya meski dari strata sosial yang jauh lebih rendah. agar anaknya bisa jadi pemimpin yang tau betul siapa yang harus dia bela dan dia perjuangkan nasibnya.

  34. Ardy Pratama Said,

    December 21, 2008 @ 12:05 am

    sya jd ingt pljran PPKn.. mndhulkan kpntign brsama atw orng lain drpda kpntgn dri sndiri… sip, mntap postinganx

  35. suryaden Said,

    December 21, 2008 @ 1:35 am

    Keputusan pak suamimalas sangat bagus sekali, tapi agak janggal juga saya melihat pandangan anda tentang anak-anak yang harus disubsidi, satu sisi anda tidak mau membayar mahal untuk subsidi, satu sisi tidak mau anaknya sekolah bareng kelas ekonomi yang dibawahnya…
    mohon dicerahkan dan salam kenal

  36. nasrul Said,

    December 21, 2008 @ 4:55 am

    kawan, bantuin saya donk, Kasih komentar or Dukungan, temen ku mo menikah. please yach..
    masuk disini :

    http://nasrul.blogdetik.com/2008/12/21/si-kecil-beranjak-dewasa/

  37. oky de la rocha Said,

    December 21, 2008 @ 8:39 am

    wah artikelnya inspiratif banget neh, kagak salah kalo blog ini gwa masukin di daftar blog favorit he..he..

  38. BlogSigit Said,

    December 21, 2008 @ 9:43 am

    biaya pergaulan di sekolah internasional pasti tidak sedikit…

  39. the fachia Said,

    December 21, 2008 @ 5:59 pm

    nasionalisme adalah lebih penting dari sekedar fasilitas!!!!

    tapi untuk meningkatkan jiwa nasionalisme harus didukung dengan perkembangan pola pikir masyarakatnya..

    :(

  40. syamsu Said,

    December 21, 2008 @ 7:37 pm

    hahaha bersambung neh ceritanya.. :-)

  41. suamimalas Said,

    December 21, 2008 @ 9:46 pm

    #kilaubintang: waaahh…$$$ belum cukup pak….
    #ruanghati: saya sih berharap anaknya lebih baik
    #runi: betul unti!!
    #babacilukba: saya doakan rezekinya juga naik beserta naiknya uang sekolah
    #Maureen80: amiiinnn mudah-mudahan begitu mba
    #fianty: iya nih…suka gak percaya diri saya untuk jadi role model di rumah
    #enalt: saya sangat sepakat… :D
    #yans: mas khan baru lihat saya dari satu sisi…kalo sisi yang lainnya sih tetep males
    #pangeran tampan nan kayaraya: saya doakan semoga cepat dapet calon ibu dari anak-anak
    #andivan: mudah-mudahan anak saya bisa mengekor profesornya si mas ini…amiiieen…
    #soerdjak: sadar sebelum terlambat…
    #rice2gold: makanlah…makanan petani Indonesia…halaaah…koq jadi iklan partai…
    #pijomania: seharusnya kita berpikir gimana supaya penghasilan kita bisa cukup 5 tahun ke dean lagi
    #cyprus: bisa apa nih??? huehehe…
    #julian: amiiieeen…mudah-mudahan harapan ini tidak terlalu besar untuknya…
    #budiono: sempat terpikir mau homescholing sih mas…tapi memang terbentur kendala ijazah…
    #uni: betul sekali…
    #easy: betul bu guru…
    #green aple: sungguh profesor yang aneh…huehehe…
    #mrwhy: saya ‘ayah bijak’ sekaligus ’suamimalas’ hihihi… #dandoenk: ayo kita bikin partainya…
    #Aunty sang anak ikan asin: pinjem mobil swiftnya unti…halaaahh…tetep
    #just2live: betul sekali…sampai sekarang masih bertanya-tanya…apa ini keputusan yng tepat…
    #fanabis: amiiieenn
    #det: bisa kalo ada aquarium dikelasnya :D
    #lischantik: betul…apalagi untuk ukuran anak umur 2 tahun…
    #ullyanov: mudah-mudahan anak saya bisa mengambil pelajaran yang tersirat di luar sana
    #dee: semoga anaknya menjadi anak yang diidamkan di mimpinya… tapi tetap rendh hati…:D
    #liaanyhendrawaty: bener banget dan berasa banget….
    #aribicara: justru ini karena kesadaran gak bisa bantu apa-apa…
    #munwar am: tapi koq banyak di demo yach?
    #oedin: bagian mananya…bagian ikan asinnya yah?
    #khofia: niat saya juga begitu…mohon doanya supaya tujuan saya tepat yah…
    #Ardy pratama: waduuhh…sayangnya saya udah lupa soal Ppkn ini…
    #suryaden: Hmmmm…sepertinya mas salah tangkap dengan postingan saya ini…mungkin bisa dibaca lagi mas…tapi wajar sih kalau salah tangkap…maklum tulisannya saya loncat-loncat…harap maklum :D
    #nasrul: oke…meluncur ke TKP
    #oky de la rocha: mas…saya juga favorit dengan blognya situ…tapi koq saya sering sulit ngebukanya yah?? Kadang udah bolak-balik tapi gak kebuka juga? Kayaknya ada yang bikin berat deh…
    #the fachia: yah…saya coba dari diri sendiri dulu deh
    #syamsu: biar kayak sinetron kejar tayang…

    PS: maaf nih dibalesnya barengan…soalnya susah masuk account, besok saya jelaskan alasannya….

  42. hafi Said,

    December 22, 2008 @ 9:39 am

    assalam …

    i wondering neehh …
    sepertinya kan suami malas having perfect and nice family …
    jadi pengen nanya : “PERNAH SELINGKUH TAK ??”,
    abis si kuti … sepertinya punya nice family .. tapi gilingan punya …
    hue..he..he..

    -hf-

  43. achill Said,

    December 22, 2008 @ 11:18 am

    nice post!!! salam kenal ya..
    mmmhh.. just wondering suamimalas having such a great wife & son ya? eh.. son apa daughter ya? ;)
    subhanallah…

  44. suwung Said,

    December 22, 2008 @ 11:37 am

    kalo diriku ya pak… ini diriku lho pak…
    biarlah rangga tumbuh dengan apa adanya…
    biar strugle menghadapi kehidupan ini

    karena klehidupan bukan terdiri dari fasilitas demi fasilitas… tapi bagaimana kita berusaha mendapatkan fsilitas tersebut

  45. katakataku Said,

    December 22, 2008 @ 5:03 pm

    10 tahun mendatang biaya sekolah berapa ya ?

  46. iniceritaku Said,

    December 22, 2008 @ 5:34 pm

    mas mo nanya dong, gimana cara nya upload image ke dalam blog detik dari harddisk. saya udah coba tapi tetap aja ga bisa.
    di tunggu info nya ya mas. terimakasih..

  47. suamimalas Said,

    December 22, 2008 @ 5:35 pm

    #hafi: yaahhh..khan tidak semua saya cerita disini..saya hidup di dunia nyata koq…dimana kadang juga berselisih paham dengan istri
    #achill: its a son!
    #suwung: sepakat…
    #katakataku: kita konsentrasi ke ‘berapa penghasilan kita 10 tahun mendatang’ itu saja
    #iniceritaku: saya ndak pernah upload di blog detik mba…semua saya upload diluar dan disini hanya link…saya simpan image di imageshack.us…trus nanti ada url yang dihasilkan dari imageshack.us (http://blabla…..), dimasukan ke dalam image url….semoga membantu… :D

  48. Reza Fauzi Said,

    December 23, 2008 @ 10:13 am

    emang apa apa pada mahal ya

  49. Nyante Aza Lae Said,

    December 23, 2008 @ 2:55 pm

    kelas kampung bukan berarti g bisa go internasional khann??

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment